Aku #9

Aku #9

Inilah aku yang menasbihkan diriku. Inilah aku yang menjadi raja bagi rakyatku. Inilah aku yang aku menjadikan ragaku sendiri sebagai abdiku. Inilah aku yang mendambakan nadiku sebagai pelaksanaku. Inilah aku yang mengutus hembusan angin menjadi penyambung nyawaku, yang mendirikan bentuk-bentuk senyawa baru dalam penyendirianku, yang menambah bala tentara dari hembusan nafasku, yang aku menjadikan waktu sebagai penasihatku, yang aku menggunakan telapak tanganku untuk memberi senyum ramah kepada dunia, yang aku menjadikan nyawa sebagai bentuk lain dari duniaku, yang aku membujuk hatiku untuk menjadi permaisuriku, yang aku membawa detak jantungku sebagai menantuku dan sekaligus sebagi putra mahkotaku, yang aku membagikan dagingku sebagai persembahan untuk rakyatku, tulangku dari rusuk sebelah kiriku kujadikan singgasana dalam peperanganku, yang aku memanggil lidahku sebagai prajurit untuk mengawalku, yang aku membawa turut serta pula otak dan kepalaku untuk kujadikan tangan kiriku, dan kupanggil mata hatiku menjadi tangan kananku, yang aku menjadikan telingaku untuk selir-selirku yang lain.

Inilah aku yang menaruhkan raga dan singgasanaku untuk menafkahi keluargaku yang tak lain adalah istri dan anak-anakku, orang tuaku, tetanggaku dan sahabatku, dan saudara-saudaraku. Inilah aku yang menyerukan tindakan terpuji dari segala ibadahku untuk keluargaku. Kuhembuskan setiap hela nafas untuk mereka. Kulangkahkan kakiku dari kanan, sejengkal demi sejengkal untuk kukabarkan rizki yang kuterima dari tangan Agung_Nya. Kepada istri dan anak-anakku kulapangkan hatiku demi ibadahnya. Kututup mata dari gambaran iblis dan kututup telinga dari nyanyian syetan penghuni ujung neraka.

Inilah aku yang dengan senandung rindu kudendangkan keseluruh penjuru desa. Kukabarkan tentang Iman_ku, tentang Islam_ku, tentang harta_ku, tentang ilmu_ku dan tentang nafkahku. Hanya satu jalan menuju Cinta melalui nyanyian rindu.

Inilah aku yang demi pucuk-pucuk mimpi kujegal langkah-langkah saudaraku dipengasingan mencari pengungsian. Kugunjingkan pula tentang kabar Iman yang selama ini telah tertata rapi didalam sanubari tetapi tertutup oleh kepekaan zaman. Kuselami pula laju mimpinya yang semakin kelam menuju tempat ke_Abadian. Kuikuti pula petunjuk yang muncul dikegelapan yang semakin redup oleh terangnya kemaksiatan. Kutinggalkan pesan yang tertulis indah dalam kitab-kitab yang telah terwariskan sebagi juru selamat untuk seluruh umat manusia.

Demi Waktu, untuk semua saudara-saudaraku sekandung, saudara-saudaraku yang lahir dari keturunan Adam yang ingin kembali selamat sampai ketempat persinggahan terakhir, dan bukanlah ditempat pengungsian yang seperti yang selama ini mereka gambarkan dalam senyum-senyum kemunafikan iblis. Aku kabarkan pula tempat terakhir yang akan kita tempati nanti untuk selamanya, dan bukanlah tempat-tempat pengungsian yang hanya sebagai tempat berlabuh sementara untuk mencari bekal yang mungkin pula adalah sesuap nasi dan seteguk air. Betapa jauhnya perjalanan untuk mencapai tujuan dengan selamat. Namun aku kabarkan kembali dengan ini, karena sungguh Dia telah memberikan kita jalan yang lurus dan terang benderang dengan tanpa menggunakan lampu-lampu kota yang penuh dengan kemaksiatan. Tangan kananku yang tak lain adalah mata hatiku akan menuntun kejalan yang telah tersedia dan bukan jalan-jalan semu hasil rekayasa iblis-iblis dunia. Dan semoga pula untuk telinga-telinga kita semua tidak tuli dengan kesombongan yang tercipta. Kukabarkan kepadamu pula lewat Agama, yang akan menjadikan hidupmu lebih indah dan teratur, sehingga kau tidak akan tersesat oleh keindahan dan bayangan semu. Demi Waktu itu, maka aku akan kembali dan menanyakan kembali tentang 3 pertanyaan terakhir yang akan aku ajukan untuk mendapatkan jawaban yang Haqq, tentang Imanku, tentang Islamku dan tentang Pengakuanku, yang apakah nantinya aku akan termasuk kedalam golongan orang-orang yang mendapat petunjuk dan selamat sampai ketempat tujuan.

Allahu Akbar Walillaahilhamdu.

Bersambung……**

25 Oct 2008 at 17.40

Surat Untuk Sang Kekasih ….bag 4

Surat Untuk Sang Kekasih ….bag 4

Selamat malam wahai engkau duhai sayangku….

Demi langkah langkah indah kaki kaki para Malaikat yang senantiasa menghembuskan kesejukan pada pagi hari dan keteduhan manakala tengah hari dan penunjuk jalan terang kala senja hari dan menjadi pelita kala gulita telah datang membayangi.

Sayang…

Kutitipkan salam rinduku pada hembusan pagi. Disetiap langkah indahmu, do’a ku selalu menyertaimu, semoga kelak kau kan tetap menjaga cintaku yang senantiasa indah kujaga untukmu. Nafasmu bagai desah gaun malam berpesta menyambut datang pagi, saat dimana para perawan masih tertidur pulas dalam buaian kelembutan angin malam. Bertiup bagai angin surga, bagi perawan desa yang sedang dilanda asmara. Setiap kakimu yang melangkah indah mendekati tepi sungai yang dermawan, senyum indahmu bagi para musyafir yang berteduh menunggu waktu dzuhur, juga halus sapamu kepada para gembala yang sedang menggiring ternaknya menjauhi persawahan, tanda telah senja hari. Kutitipkan salam rinduku melalui onak batinku saat mencari pelepas dahaga kala rindu. Aku pun senantiasa ikut menikmati suasana dukanyana yang melingkupi warna kota mati. Disini aku sendiri meliput sepi, saat dimana para pelaut sedang berlabuh merayakan hajatnya bagai menyambut datangnya tamu agung ataupun pesta pernikahan bagi para bangsawan. Disini dikala senja hari, bagaikan malaikat maut datang dengan kegelapan yang merayap cepat, sunyi, senyap. Sekajap saja mampu melenyapkan semua denyut nadi nadi raga yang telah tergunakan selama hidup.

Sayang….

Kepada siang aku memohonkan keteduhan untukmu. Kepada_Nya aku selalu menanyakan tentang kabarmu, tentang berita kesetiaanmu, tentang kisah cintamu, tentang rantai-rantai belenggu yang mengiringimu, tentang rayuan para ulama Bestari tentang indahnya hari esok akan datang kebahagaiaan dalam hidup tanpa cinta yang tulus, tentang bagaimana kau kan kembali ke asalmu dengan senyum kesetiaan dan kecintaan yang selama ini kau janjikan, tentang bagaimana kan kau jelang hari bahagiamu diatas jerit dan tangis kekasihmu, tentang bagaimana perasaan rindumu yang telah lama kau simpan dan kau sembunyikan dariku, dan tentang tenaga dan kekuatan yang pernah kau pakai untuk menggempur tembok tembok penghalang rasa cintamu.

Sayang…

Kepada senja aku kan bercerita tentang sajak sajak indah yang pernah kutulis untukmu, tentang kemelut nadi dan jiwaku melawan penderitaan dan penganiayaan, tentang pengampunan dari maut kepada malaikat maut, tentang hari dimana semua sahabat-sahabatku kan pergi jauh, tentang kearifan dan kebijaksanaan seorang muslim dan oarang tua, tentang bagaimana Islam mengajarkanku untuk saling hidup berdampingan dan kerukunan, tentang bagaimana aku mengaji bagaimana para merpati memaafkan anak-anaknya yang lupa pulang, tentang kesalahanku mengucapkan lafaz kesetiaan, dan tentang bagaimana nadiku yang sering kali berjuang mendustai hati.

Sayang….

Lalu saat malam itu kembali hadir, maka aku akan bercerita kembali kepada_Nya, tentang bagaimana rasa cinta ini menahanku, tentang bagaimana kasih sayang ini menawanku, tentang bagaimana rasa rindu ini melemahkanku, tentang bagaimana keadaan seluruh isi bumi ini jikalau cinta tidak menyentuhnya, tentang bagaimana rasa panasnya api jikalau bara yang menjadi sumbernya tidak mau lagi mengakui api sebagai hasil perjuangannya, dan tentang bagaimana peradaban manusia hidup dudunia ini yang hanya mendustakan cinta dan menjualnya demi sebuah kekayaan dan nama terang.

Sayang….

Mungkin aku telah mulai menuliskan sajak-sajak rinduku ini, hanya lebih lambat satu menit saja dari sesaat kepergianmu, sehingga kau tidak pernah tahu lagi dari mana kau akan datang kembali setelah sekian lama berperang melawan harga diri dan nama baikmu, yang mungkin kau tak tahu bagaimana kau dilahirkan dan dari mana kamu datang. Aku sendiripun masih berharap malam kan meninggalkan sisa sisa kearifannya untuk pagi yang mulai menyengat, setelah embun telah meleleh oleh fajar yang telah diporak porandakan oleh kaki kaki mulia para petani yang bergerak sedikit lebih cepat dari waktunya orang orang kaya yang tidur laksana menerima wahyu, sehingga merelakan waktunya kepada para petani, yang untuk selanjutnya dari petani akan mengembalikan sisa waktu itu untuk para kaya setelah mereka terbangun dan tergerak akal dan fikirannya. Kala mereka berfikir, maka petani sedang beristirahat. Dan saat mereka bergerak, maka petani pun harus merelakan pengembalian hutangnya pada para kaya. Itulah hidup, dimana yang bergerak mendekati cahaya, malah akan mendapati sepertiga bagian dari yang tertidur laksana penerima wahyu. Apalah arti jerih payah petani, jika mereka menganggap, uang hanya untuk nilai pendidikan dan jabatan, dan bukan untuk tenaga yang dengan sungguh sungguh dikeluarkan untuk menanam benih benih kehidupan, yang mana dari sanalah kehidupan itu berlangsung. Tapi itulah Cinta, dimana kecintaan para petani menanam benih padi, lalu kemudian merawatnya dengan sungguh-sungguh, menjaganya dan melindunginya dari setiap musuh, demi hasil yang sangat baik untuk memberi nafas baru kehidupan bagi anak dan cucu mereka.

Sayang….

Begitulah cinta. Secara fisik kau tak akan mendapatinya jika hanya kepuasan dan kenikmatan yang kau cari. Namun kau akan dapat merasakan cinta itu, hanya dengan keutuhan hatimu menanam dan merawatnya, menjaganya dan melindunginya demi nafas kehidupan yang lebih indah, berkorban untuk cintamu demi anak dan cucumu dan generasi penerusmu.

…………………bersambung**

Pati, 16 Oct 2008

Aku #4

Aku 4

 

 

Aku…

Kini ku berjalan seorang diri..

Menghadapi dunia ini sendiri..

Sepi…

 

Aku bagai melangkah tak bertepi..

Selalu sendiri..

Aku sepi..

 

Aku seakan mau meronta-ronta menjajakan diri..

Aku sendiri, diriku dan orang lain yang sendiri..

 

Beribu perasaan cinta menggoda hatiku yang sendiri..

Bagaikan layang-layang terbang tinggi…

Lalu kemudian melayang-layang dalam awan..

Setelah terputus dari tali..

 

Aku seperti lukisan malam yang sepi..

Hanya bertemankan gulita malam yang mencekam..

Serta dingin yang teramat sangat ketika musim kemarau…

 

Serasa aku kian galau..

Aku terus dibuai khayalan..

Seperti mengigau tiap kesempatan…

 

Sendiri itu sepi…

Bagaikan seorang raja yang selamat dari peperangan panjang..

Entah itu kemenangan, atau pun sandi menuju kejayaan..

 

Tapi yang pasti, sendiri itu bagaikan maut yang setiap saat bisa menjemput..

 

Aku lelaki yang setiap saat selalu sendiri..

Entah itu menyendiri ataukah mencari sepi..

Namun aku memang selalu sendiri..

Sebelum nanti datang mati.

 

 

 

 

Pati, 13 April 2008                                                                   at 20.30

Surat Untuk Saang Kekasih 1

Surat Untuk Kekasih *__bag 1____…….

Salam,

Dear Khusnul,
Sayang, sekarang aku bisa melihat bahwa langit itu memang indah, meskipun tatkala mendung itu tiba, keindahan warnanya akan tampak suram. Namun dari sanalah aku bisa menemukan keindahannya. Karena akan datang pelangi harapan nan menawan, sesaat setelah mendung kelabu itu pamit.
Sayang, dari sana pula aku akan mampu menggapai makna ke_Agungan_Nya, nan mempesona jauh kelubuk hatiku. Jauh dari jangkauan maya seseorang, kegelapan itu akan datang dikala kita sudah pernah merasakan indahnya sinar kecerahan.
Sayang, aku akan selalu berteduh pada langit itu, meskipun langit mendung, berjuta gelombang badai dan angin topan yang menerjang seperti prahara, meski sampai langit runtuh sekalipun, aku tidak akan pernah enggan untuk melabuhkan harapanku kepersinggahan terakhirku itu. Tempat dimana aku akan menjalani kehidupan baru nantinya. Aku yakin kau akan selalu menjaga cinta kita ini. Hingga mungkin sampai ajal menjemputku nanti, dan meskipun mungkin saat itu kau tak pernah ada lagi disampingku, namun aku sangat yakin akan kuasa Rabb_ku. Aku mencintaimu kekasihku, begitu pula aku mencintai Allah dan Muhammadku. Begitu pula aku mencintai Orang Tuaku dan saudaraku dan sahabat-sahabatku. Aku sungguh sangat mencintai kalian, sama seperti Adam mencintai Hawa, dan Hawa memberikan kasih sayangnya yang tulus untuk anak-anak Adam, hingga sampailah pada kelahiran kita.
Sayang, aku sudah tahu untuk meyakinkanmu bahwa aku memang sudah jauh lebih tua darimu. Lihat saja dari tahun kelaiharan kita. Jika kamu memang dilahirkan dengan tahun Masehi, yang mana sudah mengalami penggubahan ketika memasuki abad ke-17/ke-18, maka aku dilahirkan pada masa kelender Hijriah. Maka sudah barang tentu aku akan mengalami flase penambahan sedikit waktu hidup.
Sayang, itu hanya sedikit saja mengenai beda kelahiran kita, yang kemudian malah membuatmu menjadi bimbang. Maka aku dalam kalimat ini menyatakan aku sedikit lebih tua darimu.
Sayang, dalam hidup ini bukannya faktor usia yang sudah tua, ataupun faktor definisi kaya atau miskin, dan juga bukan mengenai kebijaksanaan bentuk pemerintahan. Namun pada masa hidup_mu, dan hidup_ku, maka memang kita inilah yang akan mempertanggung jawabkan setiap bentuk perilaku kita ini kepada_Nya.
Sayang, jika nanti kamu telah berhasil menemukan kebahgiaan_mu, yang sudah dirancangkan oleh para orang_tua_mu, dan terutama orang yang merasa paling berjasa dalam hidup_mu, yang kau pun sendiri juga telah menyerahkan hidup_mu untuk mereka, maka kau boleh datang menjengukku, dengan kebahagiaan yang mungkin akan kalian pertunjukkan didepanku, dengan wajah yang sumpringah, dengan pakaian yang serba indah, kendaraan-kendaraan mewah, dan mungkin dengan para pengawal pribadimu, dan membawa beberapa buah peti emas, berisi emas, uang dan permata lainnya, yang akan kalian tinggalkan untukku, dengan maksud untuk menebus cinta yang pernah kau berikan untukku, dan akan kalian katakan bahwa “….inilah harta dan pangkat derajat dan jabatan serta nama besar, yang akan menjamin kebahagiaan….”, sehingga aku akan menambahkan “….terimakasih…”, dan kalian akan tertawa bangga melihat kehidupan_ku yang sendiri (menduda), yang hanya bertempat disebuah ruangan berukuran kecil, seluas meja makan_mu, seraya meninggalkan sebuah kalimat yang terdengar sangat keras, sekeras suara petir disaat musim mengalami peralihan dari musim penghujan ke musim kemarau, “…dengan harta itu kau akan dapat makan sekenyangmu, kau bisa membeli kebahagiaanmu, dan kau pun bisa mendapatkan cinta dari beribu wanita lain, hanya dengan seper seribu dari harta itu. Ingatlah wahai kisanak, dengan harta itu kau akan bisa mendapatkan semua yang kau ingini, termasuk cinta dan kebahagiaan, juga kehormatan, pangkat dan derajat, dan yang pasti kehormatan..”, sementara aku akan tersenyum kecil sembari menambahkan beberapa kalimat murni dari apa yang kudapatkan “…kebahagiaan itu hanyalah bagi siapa yang merasakannya, bagaimana dia menerima, dari caranya dia bersyukur, bagaimana dia merasa cukup, dan bagaimana ia mengatur waktu. Aku sudah pernah hidup, mengenal, mananam dan mengenal cinta. Dari sanalah aku merasakan kebahagiaan itu. Aku hidup dengan cinta. Dan aku memang dilahirkan untuk mencintai sesamaku dan terutama Pangeranku. Aku mencintai adalah dari hati dan merasakan cinta_Nya melalui rasa Syukurku atas segala pemberian_Nya. Aku tidak pernah merasakan kesendirianku, meskipun yang kau lihat, aku dalam keadaan Duda. Paling tidak aku pernah merasakan sebentuk cinta yang tulus dari seorang gadis yang suci. Aku pernah merasakan sentuhan kasih sayang yang menawan, dari seorang perawan yang sedang merasakan cinta dari_Nya sang pemilik cinta. Dan aku sampai sekaarang pun masih merasakan cinta kasih_Nya yang Agung. Aku bahagia dengan rsa syukurku. Aku bisa berbahagia dengan mencintai. Dan aku, berbahagia dari semua ke_ikhlasan_ku menerima semua dari_Nya. Aku tidak hanya ingin mendapatkan kebahagiaan didunia ini saja, yang notabene hanyalah sementara waktu saja. Begitu juga dengan sukses, pangkat, derajat dan nama besar. Apalah artinya pangkat, derajat dan nama besar didunia, jikalau dimata Allah sang Rahmaan, kita tidak punya apa-apa. Sedangkan kesuksesan, tidak lain hanyalah bentuk semu dari kesombongan, jikalau kita tidak mampu menggunakannya, dan tak lain hanyalah sebuah jalan menuju kelembah kelalaian, jikalau kita tidak mampu mempertanggung jawabkan penggunaanya. Sukses, adalah sukses dunia, dan sukses di akhirat. Sukses, adalah jika kita berhasil mengakhiri hidup ini dalam keadaan Khusnul Khotimah, yang mana kesuksesan itu paling tidak sudah tercermin dari nama istriku sendiri yakni Khusnul Khotimah. Allah ya Rahmaan, ya Rahiim, ya Malik, ya Qudduus, ya Salaam, ya Mu’min, ya Muhaimin, ya Aziiz, ya Jabbaar, ya Mutakabbir, ya Khaaliq, ya Baari, ya Mushawwir, ya Ghaffaar, ya Qahhaar, ya Wahhaab, ya Razzaaq, ya Fataah, ya ‘Aliim, ya Qaabidh, ya Baasith, ya Khaafidh, ya Raafi’, ya Mu’iz, ya Mudzil, ya Sami’, ya Bashiir, ya Hakam, ya ‘Adl, ya Lathiif, ya Khabiir, ya Haliim, ya ‘Azhiim, ya Ghafuur, ya Syakuur, ya ‘Aliy, ya Kabiir, ya Hafiizh, ya Muqiit, ya Hasiib, ya Jaliil, ya Kariim, ya Raqiib, ya Mujiib, ya Waasi’, ya Hakiim, ya Waduud, ya Majiid, ya Baa’its, yua Syahiid, ya Haqq, ya Wakiil, ya Qawiyy, ya Matiin, ya Waliyy, ya Hamiid, ya Muhshi, ya Mubdi, ya Mu’iid, ya Muhyi, ya Mumiit, ya Hayyu, ya Qayyuum, ya Waajid, ya Maajid, ya Waahid, ya Ahad, ya Shamad, ya Qadiir, ya Muqtadir, ya Muqaddim, ya Muakhkhir, ya Awwal, ya Aakhir, ya Zhaahir, ya Baathin, ya Waali, ya Muta’ali, ya Barr, ya Tawwaab, ya Muntaqim, ya ‘Afuw, ya Ra’uuf, ya Malikal Mulk, ya Dzaljalali Wal Ikraam, ya Muqsith, ya Jaami’, ya Ghaniy, ya Mughni, ya Maani’, ya Dhaar, ya Naafi’, ya Nuur, ya Haadii, ya Badii’, ya Baaqi, ya Waarits, ya Rasyiid, ya Shabuur.

**_____________bersambung______**

Sang Kekasih

Diajeng…
Senyum yang indah kala membuka hari bersama senyum ramah sang mentari itu,
kini sudah tak kan lagi kulihat.
Wajah indahmu yang menemani setiap mimpiku saat malam semakin dingin menggeluti tubuhku yang kian mengecil ini, kini hanya tinggal kenangan saja.
Suara merdu sang kekasih yang dulu sering kau lantunkan untukku saat ku sakit dan rindu,
kini akan hanya menjadi nyanyian sesat dalam lantunan iblis-iblis pinggir kota ini.
Jalan-jalan yang dulu menanti pijakan langkahmu yang mulia pada setiap paginya,
kini menjadi kubangan-kubangan kotor yang semakin memburuk oleh pijakan-pijakan maut.
Buaian rindu yang dulu selalu menghiasi malam-malam ku dan malammu,
kini hanya menjadi bualan saja oleh nasihat orang-orang baik.
Sudah semestinya…………….

Diajeng…
“….Apalah jadinya arti hidup ini tanpamu…., …kebahagaian itu kini lenyaplah sudah…, dll”.
Dalam setiap masanya diajeng, cinta itu akan membuat hidup kita menjadi indah.
Cinta kita ini pun sudah semestinya akan manjadi baik,
“…sebab cinta yang dibalut dengan air mata, akan bertahan lebih lama dan akan senantiasa indah menghiasi dunia…..”.

Diajeng….
Mudah-mudahan kau akan hidup bahagia sampai akhir masamu nanti. Sementara biarkan saja perasaan cintamu itu berjalan dengan sendirinya dan biarkan ia hidup sendiri menghidupi dirinya sendiri dengan cinta itu. Biarkan rasa cintamu padaku yang masih tersisa itu mengisi tempat tersendiri, jauh direlung hatimu yang terdalam. Agar supaya nanti tatkala malaikat juru pati itu datang dan menanyakannya kepadamu, maka rasa cinta itu yang akan menjawabnya. Perasaan itu hanyalah untuk memenuhi janjimu padaku, dan untuk menjawab keragu-raguanmu atas cinta yang Haqq, cinta yang telah kita lalui bersama dalam suka maupun duka.

Diajeng…
Sebaiknya biar aku saja yang meminta maaf kepadamu, dan kepada semua orang yang telah aku berbuat salah kepadanya, baik yang secara jelas aku lakukan maupun yang transparan telah sengaja aku lakukan, maupun kesalahan-kesalahan yang aku sendiri pun tidak tahu telah membuat hati orang lain sakit dan membenciku. Biar aku merelakan perasaanku ini, yang karena kau pun telah dengan kuat memilih “dia” (yang lain) sebagai penggantiku.

Diajeng…
Sampai saat ini pun aku belum tahu siapa “dia” yang telah terpilih sebagai penggantiku. Bahkan kau sendiri pun tidak pernah memberi tahuku. Sampai saat ini langit masih membisu dan menutup semua tentangmu. Langit hanya mampu mengirimkan mendung dan hujan, yang seolah ia tahu tentang mendung dukaku dan tangis hatiku. Tiap hari aku hanya melihat mata-mata yang seolah turut menangisi kekalah “cinta”.

Diajeng…
Bila memang benar cinta telah kalah… itu berarti aku pun telah kalah. Aku tidak pernah menyerah, apalagi menyerahkan semua yang kucinta dengan begitu saja, apalagi kepada siapa saja. Sampai sekarang pun aku sangat mencintaimu. Aku sangat sayang padamu diajeng…..
Aku sangat rindu kamu.
Aku tidak bisa melepas semua kenangan yang telah kita buat.
Aku merasa kebahagiaan itu kini lenyap sudah.
Aku seolah ingin membuang jauh semua kenyataan yang telah membuyarkan mimpiku.

“….Warna seperti menghilang di kota ini. Hitam dan putih masa lalu telah membisu. Semua berakhir disini, tempatku mulai bermimpi. Terasa masih menangis disini. Langkahmu yg telah pergi. Udara kini berubah, di kota mati. Seperti kisah masa lalu kini membisu.
Sayang, coba dengar ku berbisik, dari suaraku yg tak mengering. Hatiku telah mati disini, terdiam dan tak mendengar…”

Diajeng…
Aku selalu dihantui ketakutan. Aku takut tentang hari esok kala kau telah tiada. Aku semakin mengerut kala aku harus terbangun dan sadar tanpamu. Aku semakin menciut nyali kala suatu saat nanti jika aku harus membagi cinta ini kelain hati. Aku sangsi. Aku menyangsikan kehidupanku sendiri kala kau tinggalkan.

Diajeng….
Sungguh, jika seandainya aku diberi lebih oleh Allah unutk semua kecintaan dan keinginan serta yang kau takutkan, maka aku akan mendatangimu dan menjemputmu kala itu pula. Karena aku memang sangat mencintaimu, dan sudah pastilah jika aku bisa, maka aku akan membuatmu bahagia melebihi kebahagiaan yang kau tahu. Karena memang kebahagiaan itu tidak bisa dibeli. Kenahagiaan itu hanya kita yang rasa. Bahkan gambaran tentang kebahagiaan yang diberikan padamu oleh sang pembimbingmu dan olehmu, itu pun tidak akan mampu menjamin bahwa orang yang bergelimang harta itu akan bahagia. Atau juga sebaliknya, bahwa orang hidupnya selalu dengan kemiskinan itu tak kan pernah lepas dari derita dan tidak mungkin sanggup ber-Haji.

Diajeng….
Sungguh indah jika kita mampu menggapai makna atau hakikat dari kebahagiaan itu sayang…. Mungkin akan sama dengan semua yang telah merasakan kebahagiaan saat-saat, detik-detik berjumpa dengan sang Kekasih…..
…….bersambung.

Pati, 090308 (www.azizgabussaridin.blogspot.com)
DiajengQ Khusnul Khotimah with Me (saat masih besama).

Salam Rindu

Bismillahirrahmanirrahim.

Assalamualaikum wr. wb.

Diajeng,

Sunguh malam itu sangatlah indah dengan nyanyian merdu kasih sayangnya kepada dunia lewat mimpi, atapun dengan sejuta bintang yang menyinari kelembutannya. Seandainya diajengku pun bisa tahu tentang cerita malam kepada dunia, malam dengan rayuan pulau mimpiya, dan malam bersama berjuta harapan dan keluh kesah orang-orang kecil nan teraniaya. Malam tidak selamanya datang dengan membawa berita duka ataupun kuasa tangan-tangan perkasa yang semakin kokoh menempatkan dirinya disamping altar pemujaan.

Sungguh malam akan sering datang, mengiringi raungan rindu dari para gadis, juga tangisan merdu dari para wanita-wanita tua.

Malam akan selalu datang dengan membawa kabar bahagia dan dusta. Bahagiamu yang akan kau rasa setelah seharian menahan dahaga. Kesejukannya mengganti warna indah sang mentari yang mulai meradang oleh ulah manusia. Malam telah merubah semua kengerian awan dan mendung dengan kabut senjanya diatas menara-menara langit lazuardi. Malam telah mampu menyandingkan setiap insan dengan insan lainnya atau keluarganya. Dan yang pasti malam, menjadi sarana nan indah untuk mendatangi sang Kekasih Sejati (4JJI).

Diajeng,
Aku akan selalu ada dengan nyanyian rindu yang telah kugubah sendiri syairnya, yang kusadur dari kalimat-kalimat indah yang aku sendiri pun taidak pernah tahu dari mana asal muasal kalimat-kalimat yang kusadur itu. Mungkin pemiliknya sendiri telah mati. Atau mungkin penulisnya lupa mengasaih nama pada bagian akhir tulisannya, lalu Dia lupa menaruh tempatnya. Tapi yang pasti, nyanyian itu telah merubah jalanku. Syair gubahanku itu telah banyak menuai tentangan dari berbagai pihak. Yang akan mungkin pula dikatakan bahwa aku telah gial, edan dan tidak waras, karena aku telah kehilangan harta yang sangat berharga bagiku (Kamu). Karena itu akan sangatlah wajar jikalau manusia lain menyebutku seperti itu, karena memang mereka mulai rabun dengan pandangannya. Bahkan jika dia ditanya mengenai dirinya dan apa yang dia lakukan pun, pasti jawabannya akan semakin membuat para Malaikat menjadi bingung.

Diajeng,
Apalagi saat malam itu telah bergerak sendiri guna menunjuki kebatilan para pengguna sangka kedalam sangkanya sendiri. Sangka-sangka manusia, tak lain hanyalah sangka syetan terhadap kebenaran dan kebaikan. Tiada sangka baik pun dari manusia yang akan mampu membuat hidupnya lepas dari sangka buruk itu sendiri. Dan kau pun sendiri telah tahu, antara sangka baik dan sangka buruk itu, yang kau sendiri pun mungkin pernah menyangkakan sangka buruk itu kepada yang Maha Hak, atas semua keadilannya bagi manusia.

Diajeng,
Sungguh aku sangat rindu padamu. Sungguh aku merindukan saat-saat kebersamaan kita dulu. Sebab tiadalah sangka lagi yang bisa aku gunakan untuk mengungkapkan rasa rinduku ini. Aku hanya mampu mengirimkan salam rindu ini, melalui celah-celah mimpi yang sedianya mungkin kau telah membukakannya untukku.

Diajeng,
Hari telah berganti masa. Dari masa keindahan malam, menuju ke masa kecerahan siang tadi. Sementara mulut ini telah terasa kaku untuk kembali berucap, yang mungkin pula hanya sekedar mengungkapkan kata “Cinta” ini kepadamu. Aku semakin tenggelam dalam masaku sendiri sayang….
Telah kutatap malam dan kusambut pagi dengan sangka baikku. Telah kusingsingkan lengan untuk menujung pagi bersemi ini, dan kugunakan kekuatan ragaku ini untuk mengayunkan pedangku kala siang tadi. Telah kumantapkan semua sangka baikku pula saat siang ini mau beranjak pergi. Dan senja yang gemerlap dengan pesona malam yang menjelma pun telah dapat kusaksikan dari bilik diriku. Aku pun mulai tersipu malu terhadap para pengembara yang menatapku penuh curiga. Dan aku dengan segenap nafasku, kembali meneriaki pagi yang telah berlalu untuk menymabut pagi kemabali.

Diajeng,
Mungkin kau hanya menyaksikan kedrmawanan hujan yang terus membagikan curahan kasih sayangnya bagi semua makhluk didunia untuk beberapa hari ini. Dan aku pun telah menitipkan sedikit air mataku bersamanya, seperti yang sering kau katakan pun, kau ikut terlarut dalam pekat cairan pesoanaku itu dalam setiap pengapdianmu. Dan aku pun ikut menangis sayang…
Hingga akhirnya aku menjadi bimbang. Aku tidak tahu apakah air mata ini adalah sebuah ungkapan kebahagian, ataukah hanya titipan pesan perasaan hatiku yang telah tergores oleh badai tahun ini.
Aku hanya mampu menolehkan wajah indahku ini, kebagian raga yang sering terhantam kata. Dan aku sekarang teraniaya oleh perangkap dunia yang telah syetan ciptakan. Walau aku sangat tahu pun jalan keluarnya.
Aku menjadi manusia yang sering bersembunyi dibalik singgasana kebesaran_Nya, dan sering kali aku keluar dengan cermin yang telah Dia sisipkan untuk dunia.
Aku tidak berharap, meminta apalagi memohon. Dan aku malah sering menjauh pergi ketika datang masanya bagiku untuk mengucapkan satu permintaan. Aku sudah berbulan-bulan melewatkan kesempatan itu. Aku tidak memiliki apa-apa yang kudapati. Aku juga tidak berhak apa-apa dari semua yang kuperoleh dengan sekuat tenaga. Karena aku sadar akan diriku. Aku sadar tentang diriku dan penyesalanku dan kecuranganku. Aku sadar dengan apa yang seharusnya kuberbuat. Aku sadar kemana seharusnya aku menunjukkan kasih sayang ini. Aku sadar kepada siapa aku akan bertanggung jawab dan mengatakan semuanya nanti. Dan aku juga sadar bahwa hidupku memang sudah tidak lama lagi.

Diajeng,
Dan aku pun sadar bahwa kau memang wanita yang sangat aku cintai, dan bahkan aku pun telah menikahkan jiwaku denganmu yang tanpa terpaut jarak dan waktu. Dan ketika itu aku pun dengan sangat sadar telah melakukannya. Dan yang terakhir aku pun sadar dengan keberadaanku disini. (bersambung……………….).

Rahasia

Salam….

Untuk semuanya, hari ini yang seharusnya hari kemarin aku menungkapkannya,
aku beralih fungsi menjadi pendalil yang rendah hati dan tua renta, dan seolah aku hanya mampu membakar buku yang sudah usang saja.
Apakah ada yang tahu dengan yang aku rasakan sekarang?
Aku kini menjadi lelaki tua yang akan menceraikan istriku sendiri yang sudah lama sekali aku menunggunya kembali, dan sesaat setelah ia kembali, aku malah menelantarkannya.
Aku sangat tak berdaya dengan semua yang dia nyatakan padaku.
Yang artinya, dia sendiri pun bahkan tidak tahu dengan apa yang ia katakan.
Karena seolah yang ada padanya itu sudah bukan merupakan kuasanya lagi,
sehingga selalu yang terlihat dan terasa olehku
hanyalah nyanyian merdu seekor burung indah yang meratapi dirinya
dalam sebuah sangkar emas. Memang bagi para yang mpunya,
nyanyian seekor burung itulah yang mereka beli dan untuk mereka miliki,
yang mereka menganggap, itulah nyanyian termerdu yang mereka buat,
dan bahkan sampai diadu dalam sebuah perlombaan.
Padahal jika sebenarnya anda tahu dan paham apa yang diutarakan
dalam nyanyian merdu seekor burung indah dalam sebuah sangkar emas,
mungkin anda sendiri pun tak tega dan ngeri mendengarnya. Karena memang,
jiwa mereka akan terasa bebas dengan menyanyikan lagu-lagu merdu utnuk bumi,
sementara badannya harus bergelut dengan rantai-rantai belenggu,
yang terbuat dari emas dan permata sekalipun.
Dan mungkin itulah gambaran yang ada pada dia “istriku” sekarang.
Dan selanjutnya aku pun teringat dengan syair indah yang ditujukan untuk bumi yang indah, oleh kyai besar dari timur “Gus Mus”, dalam sayairnya yang kira-kira berbunyi
” Aku tak bisa lagi bernyanyi.
Bagiku kini tak ada lagi lirik dan musik yang menarik untuk kunyanyikan bersamamu
atau sendiri. Burung-burung terlalu berisik mendendangkan apa saja setelah mereka merdeka. Membuatku tak dapat mengenali suaramu atau suaraku sendiri……………”.
Mungkin itulah sedikit yang bisa aku tuliskan untuk anda, tentang yang pernah aku dengar,
dari seorang ulama besar seperti beliau,
tentang ungkapan hatinya untuk dunia.
Dan sekali lagi terkait dengan nyanyian rindu,
atau pun seruan jiwa dari jiwa-jiwa yang mengembara dan tubuh-tubuh yang penuh dengan belenggu kemunafikan dari sang bijaksana yang penuh dengan kesopanan dan kewibawaan,
yang senantiasa hidup hanya untuk suatu kewibawaan dan nama besar didunia ini,
yang bahakan sampai melupakan saudaranya sendiri.
Aku tidak pernah mengatakan hal yang demikian itu untuk suatu tujuanku,
yang pastinya tidak aku relakan untuk disentuh oleh kemunafikan yang tanpa batas dan tanpa cela. Karena, suatu kemunafikan, dimanapun itu, dan dengan balutan seindah apapun,
akan tetap menjadi suatu petaka buatku. Aku hanya menuliskan seperti itu,
karena dia istriku, sampai sekarang pun aku masih menunggunya.
Aku masih sangat sayang padanya. Dan aku sangat mencintainya.
Terakhir dia menuliskan padaku “…aku juga sayang sama kamu Zis,…”,
dan itulah kalimat terakhir yang dia tuliskan untukku,
yang meskipun itu hanya dalam waktu yang singkat dan hanya beberapa waktu lalu.
Diajeng, bagaimanapun juga, aku sangat sayang sama kamu.
Dan bagaimanapun juga, aku tidak ingin meninggalkanmu.
Aku tidak ingin pisah darimu. Dan aku ingin selalu kau ada disampingku.
Jadi, terakhir aku hanya ingin jawaban darimu,
yang artinya kau mau kembali bersamaku dan selalu berada disisiku,
karena memang aku sangat membutuhkanmu.
Aku akan sangat bahagia,
jika kau ada disampingku. Dan kau selalu ada jika aku butuhkan,
karena dengan senyum indahmu,
rayu suaramu dan harum tubuhmu serta aura kasihmu
itu aku serasa hidup dalam buaian indah seorang suami kepada istrinya dan keluarganya.
Diajeng, sekarang aku berada disini, dan menghabiskan waktuku sore ini,
hanya untuk bersamamu. Yang meskipun hanya lewat tulisan ini. Yang mudah-mudahan,
suatu saat nanti kau akan dapat membukanya
dan mau melakukan perjalanan sejauh apapun demi sang kasih sayang,
dan aku pun akan rela berjuang demi cinta dan berkorban untuk kasih sayangmu.
Diajeng, berkali-kali aku selalu memandangi potretmu ini,
karena memang senyum indahmu yang tertawan oleh cinta dan jiwa manusiawimu sangat kelihatan indah disitu. Lihatlah indahnya senyum dan pandangan matamu.
Aura kasihmu sangat terasa jelas walau hanya dari gambaran semu
yang pada hakekatnya adalah kenyataan yang pernah kita alami.
Aku tidak pernah merasakan aura kasihmu yang dulu, semenjak kau pergi meninggalkan aku. Tetapi dengan melihat kembali senyum indahmu yang tertahan dalam foto kita ini,
aku seakan merasakan kehadiranmu. Dan aku selalu membuka file ini,
saat aku rindu padamu, yang sudah semestinya aku selalu rindu padamu.
Sayang, aku sudah harus pergi sekarang,
karena ini sudah menunjukkan saatnya aku harus keluar dari ruangan ini,
yang mungkin juga ketika aku keluar nanti, kau sudah menungguku diluar sana,
dan mungkin aku juga akan hanya terdiam dan menundukkan kepalaku dan membisu dan menyakiti hatiku dan menyesalkan pernuatanku dan menanyakan tentang perasaanmu dan menyudahi penyesalanku.

SayangQ, masih ingatkah kau akan rencana kita berdua untuk berumah tangga dan membina rumah tangga?
Dan masih ingatkha kau dengan cinta kita berdua dan cinta kita kepada orang tua kita dan saudara-saudara kita dan semua manusia termasuk makhluk_Nya….?
Salam beribu salam ku untukmu, kekasihku tercinta, istriku tersayang, Khusnulku seorang….

Salam.

U and I

Pati, 20 Januari 2008.

DiajengQsayang

Salam untukmu, duhai wanita anggun. Salam bagimu pula semua restu dan kasih sayangku. Salam darri semua makhluk yang memuja keagungan Yang Maha Esa. Untukmu yang senantiasa memberi warna dan kesejukan di hatiku.

DiajengQ - Khusnul Khotimah.

(www.azizgabussaridin.blogspot.com)

Halo dunia!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!