Salam….
Untuk semuanya, hari ini yang seharusnya hari kemarin aku menungkapkannya,
aku beralih fungsi menjadi pendalil yang rendah hati dan tua renta, dan seolah aku hanya mampu membakar buku yang sudah usang saja.
Apakah ada yang tahu dengan yang aku rasakan sekarang?
Aku kini menjadi lelaki tua yang akan menceraikan istriku sendiri yang sudah lama sekali aku menunggunya kembali, dan sesaat setelah ia kembali, aku malah menelantarkannya.
Aku sangat tak berdaya dengan semua yang dia nyatakan padaku.
Yang artinya, dia sendiri pun bahkan tidak tahu dengan apa yang ia katakan.
Karena seolah yang ada padanya itu sudah bukan merupakan kuasanya lagi,
sehingga selalu yang terlihat dan terasa olehku
hanyalah nyanyian merdu seekor burung indah yang meratapi dirinya
dalam sebuah sangkar emas. Memang bagi para yang mpunya,
nyanyian seekor burung itulah yang mereka beli dan untuk mereka miliki,
yang mereka menganggap, itulah nyanyian termerdu yang mereka buat,
dan bahkan sampai diadu dalam sebuah perlombaan.
Padahal jika sebenarnya anda tahu dan paham apa yang diutarakan
dalam nyanyian merdu seekor burung indah dalam sebuah sangkar emas,
mungkin anda sendiri pun tak tega dan ngeri mendengarnya. Karena memang,
jiwa mereka akan terasa bebas dengan menyanyikan lagu-lagu merdu utnuk bumi,
sementara badannya harus bergelut dengan rantai-rantai belenggu,
yang terbuat dari emas dan permata sekalipun.
Dan mungkin itulah gambaran yang ada pada dia “istriku” sekarang.
Dan selanjutnya aku pun teringat dengan syair indah yang ditujukan untuk bumi yang indah, oleh kyai besar dari timur “Gus Mus”, dalam sayairnya yang kira-kira berbunyi
” Aku tak bisa lagi bernyanyi.
Bagiku kini tak ada lagi lirik dan musik yang menarik untuk kunyanyikan bersamamu
atau sendiri. Burung-burung terlalu berisik mendendangkan apa saja setelah mereka merdeka. Membuatku tak dapat mengenali suaramu atau suaraku sendiri……………”.
Mungkin itulah sedikit yang bisa aku tuliskan untuk anda, tentang yang pernah aku dengar,
dari seorang ulama besar seperti beliau,
tentang ungkapan hatinya untuk dunia.
Dan sekali lagi terkait dengan nyanyian rindu,
atau pun seruan jiwa dari jiwa-jiwa yang mengembara dan tubuh-tubuh yang penuh dengan belenggu kemunafikan dari sang bijaksana yang penuh dengan kesopanan dan kewibawaan,
yang senantiasa hidup hanya untuk suatu kewibawaan dan nama besar didunia ini,
yang bahakan sampai melupakan saudaranya sendiri.
Aku tidak pernah mengatakan hal yang demikian itu untuk suatu tujuanku,
yang pastinya tidak aku relakan untuk disentuh oleh kemunafikan yang tanpa batas dan tanpa cela. Karena, suatu kemunafikan, dimanapun itu, dan dengan balutan seindah apapun,
akan tetap menjadi suatu petaka buatku. Aku hanya menuliskan seperti itu,
karena dia istriku, sampai sekarang pun aku masih menunggunya.
Aku masih sangat sayang padanya. Dan aku sangat mencintainya.
Terakhir dia menuliskan padaku “…aku juga sayang sama kamu Zis,…”,
dan itulah kalimat terakhir yang dia tuliskan untukku,
yang meskipun itu hanya dalam waktu yang singkat dan hanya beberapa waktu lalu.
Diajeng, bagaimanapun juga, aku sangat sayang sama kamu.
Dan bagaimanapun juga, aku tidak ingin meninggalkanmu.
Aku tidak ingin pisah darimu. Dan aku ingin selalu kau ada disampingku.
Jadi, terakhir aku hanya ingin jawaban darimu,
yang artinya kau mau kembali bersamaku dan selalu berada disisiku,
karena memang aku sangat membutuhkanmu.
Aku akan sangat bahagia,
jika kau ada disampingku. Dan kau selalu ada jika aku butuhkan,
karena dengan senyum indahmu,
rayu suaramu dan harum tubuhmu serta aura kasihmu
itu aku serasa hidup dalam buaian indah seorang suami kepada istrinya dan keluarganya.
Diajeng, sekarang aku berada disini, dan menghabiskan waktuku sore ini,
hanya untuk bersamamu. Yang meskipun hanya lewat tulisan ini. Yang mudah-mudahan,
suatu saat nanti kau akan dapat membukanya
dan mau melakukan perjalanan sejauh apapun demi sang kasih sayang,
dan aku pun akan rela berjuang demi cinta dan berkorban untuk kasih sayangmu.
Diajeng, berkali-kali aku selalu memandangi potretmu ini,
karena memang senyum indahmu yang tertawan oleh cinta dan jiwa manusiawimu sangat kelihatan indah disitu. Lihatlah indahnya senyum dan pandangan matamu.
Aura kasihmu sangat terasa jelas walau hanya dari gambaran semu
yang pada hakekatnya adalah kenyataan yang pernah kita alami.
Aku tidak pernah merasakan aura kasihmu yang dulu, semenjak kau pergi meninggalkan aku. Tetapi dengan melihat kembali senyum indahmu yang tertahan dalam foto kita ini,
aku seakan merasakan kehadiranmu. Dan aku selalu membuka file ini,
saat aku rindu padamu, yang sudah semestinya aku selalu rindu padamu.
Sayang, aku sudah harus pergi sekarang,
karena ini sudah menunjukkan saatnya aku harus keluar dari ruangan ini,
yang mungkin juga ketika aku keluar nanti, kau sudah menungguku diluar sana,
dan mungkin aku juga akan hanya terdiam dan menundukkan kepalaku dan membisu dan menyakiti hatiku dan menyesalkan pernuatanku dan menanyakan tentang perasaanmu dan menyudahi penyesalanku.
SayangQ, masih ingatkah kau akan rencana kita berdua untuk berumah tangga dan membina rumah tangga?
Dan masih ingatkha kau dengan cinta kita berdua dan cinta kita kepada orang tua kita dan saudara-saudara kita dan semua manusia termasuk makhluk_Nya….?
Salam beribu salam ku untukmu, kekasihku tercinta, istriku tersayang, Khusnulku seorang….
Salam.
Pati, 20 Januari 2008.
& Komentar
Komentar RSS Lacak Balik URI Pengenal
Tinggalkan komentar


*Speechless…*
salam beribu salam untukmu…
Pati, 20 Januari 2008
Salam….
Untuk semuanya, hari ini yang seharusnya hari kemarin aku mengungkapkannya,
aku beralih fungsi menjadi pendalil yang rendah hati dan tua renta, dan seolah aku hanya mampu membakar buku yang sudah usang saja.
Apakah ada yang tahu dengan yang aku rasakan sekarang……..?
Aku kini menjadi lelaki tua yang akan menceraikan istriku sendiri yang sudah lama sekali aku menunggunya kembali, dan sesaat setelah ia kembali, aku malah menelantarkannya.
Aku sangat tak berdaya dengan semua yang dia nyatakan padaku.
Yang artinya, dia sendiri pun bahkan tidak tahu dengan apa yang ia katakan.
Karena seolah yang ada padanya itu sudah bukan merupakan kuasanya lagi,
sehingga selalu yang terlihat dan terasa olehku
hanyalah nyanyian merdu seekor burung indah yang meratapi dirinya
dalam sebuah sangkar emas. Memang bagi para yang mpunya,
nyanyian seekor burung itulah yang mereka beli dan untuk mereka miliki,
yang mereka menganggap, itulah nyanyian termerdu yang mereka buat,
dan bahkan sampai diadu dalam sebuah perlombaan.
Padahal jika sebenarnya anda tahu dan paham apa yang diutarakan
dalam nyanyian merdu seekor burung indah dalam sebuah sangkar emas itu,
mungkin anda sendiri pun tak tega dan ngeri mendengarnya. Karena memang,
jiwa mereka akan terasa bebas dengan menyanyikan lagu-lagu merdu untuk bumi,
sementara badannya harus bergelut dengan rantai-rantai belenggu,
yang terbuat dari emas dan permata sekalipun.
Dan mungkin itulah gambaran yang ada pada dia (istriku) sekarang.
Dan selanjutnya aku pun teringat dengan syair indah yang ditujukan untuk bumi yang indah, oleh kyai besar dari timur (Gus Mus), dalam penggalan syairnya yang kira-kira berbunyi
”… Aku tak bisa lagi bernyanyi.
Bagiku kini tak ada lagi lirik dan musik yang menarik untuk kunyanyikan bersamamu
atau sendiri. Burung-burung terlalu berisik mendendangkan apa saja setelah mereka merdeka. Membuatku tak dapat mengenali suaramu atau suaraku sendiri……………”.
Mungkin itulah sedikit yang bisa aku tuliskan untuk anda, tentang yang pernah aku dengar,
dari seorang ulama besar seperti beliau,
tentang tulisan yang beliau buat untuk dunia.
Dan sekali lagi terkait dengan nyanyian rindu,
atau pun seruan jiwa dari jiwa-jiwa yang mengembara dan tubuh-tubuh yang penuh dengan belenggu kemunafikan dari sang bijaksana yang penuh dengan kesopanan dan kewibawaan,
yang senantiasa hidup hanya untuk suatu kewibawaan dan nama besar didunia ini,
yang bhakan sampai melupakan saudaranya sendiri.
Aku tidak pernah mengatakan hal yang demikian itu untuk suatu tujuanku,
yang pastinya tidak aku relakan untuk disentuh oleh kemunafikan yang tanpa batas dan tanpa cela. Karena, suatu kemunafikan, dimanapun itu, dan dengan balutan seindah apapun,
akan tetap menjadi suatu petaka buatku. Aku hanya menuliskan seperti itu,
karena dia (istriku), sampai sekarang pun aku masih menunggunya.
Aku masih sangat sayang padanya. Dan aku sangat mencintainya.
Terakhir dia menuliskan padaku “…aku juga sayang sama kamu Zis,…”,
dan itulah kalimat terakhir yang dia tuliskan untukku,
yang meskipun itu hanya dalam waktu yang singkat dan hanya beberapa waktu lalu.
Diajeng, bagaimanapun juga, aku sangat sayang sama kamu.
Dan bagaimanapun juga, aku tidak ingin meninggalkanmu.
Aku tidak ingin pisah darimu. Dan aku ingin selalu kau ada disampingku.
Jadi, terakhir aku hanya ingin jawaban darimu,
yang artinya kau mau kembali bersamaku dan selalu berada disisiku,
karena memang aku sangat membutuhkanmu.
Aku akan sangat bahagia,
jika kau ada disampingku. Dan kau selalu ada jika aku butuhkan,
karena dengan senyum indahmu,
rayu suaramu dan harum tubuhmu serta aura kasihmu
itu aku serasa hidup dalam buaian indah seorang suami kepada istrinya dan keluarganya.
Diajeng, sekarang aku berada disini, dan menghabiskan waktuku sore ini,
hanya untuk bersamamu. Yang meskipun hanya lewat tulisan ini. Yang mudah-mudahan,
suatu saat nanti kau akan dapat membukanya
dan mau melakukan perjalanan sejauh apapun demi sang kasih sayang,
dan aku pun akan rela berjuang demi cinta dan berkorban untuk kasih sayangmu.
Diajeng, berkali-kali aku selalu memandangi potretmu ini,
karena memang senyum indahmu yang tertawan oleh cinta dan jiwa manusiawimu sangat kelihatan indah disitu. Lihatlah indahnya senyum dan pandangan matamu.
Aura kasihmu sangat terasa jelas walau hanya dari gambaran semu
yang pada hakekatnya adalah kenyataan yang pernah kita alami.
Aku tidak pernah merasakan aura kasihmu yang dulu, semenjak kau pergi meninggalkan aku. Tetapi dengan melihat kembali senyum indahmu yang tertahan dalam foto kita ini,
aku seakan merasakan kehadiranmu. Dan aku selalu membuka file ini,
saat aku rindu padamu, yang sudah semestinya aku selalu rindu padamu.
Sayang, aku sudah harus pergi sekarang,
karena ini sudah menunjukkan saatnya aku harus keluar dari ruangan ini,
yang mungkin juga ketika aku keluar nanti, kau sudah menungguku diluar sana,
dan mungkin aku juga akan hanya terdiam dan menundukkan kepalaku dan membisu dan menyakiti hatiku dan menyesalkan perbuatanku dan menanyakan tentang perasaanmu dan menyudahi penyesalanku.
SayangQ, masih ingatkah kau akan rencana kita berdua untuk berumah tangga dan membina rumah tangga?
Dan masih ingatkah kau dengan cinta kita berdua dan cinta kita kepada orang tua kita dan saudara-saudara kita dan semua manusia termasuk makhluk_Nya….?
Salam beribu salam ku untukmu, kekasihku tercinta, istriku tersayang, Khusnulku seorang….
Salam.