Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamualaikum wr. wb.
Diajeng,
Sunguh malam itu sangatlah indah dengan nyanyian merdu kasih sayangnya kepada dunia lewat mimpi, atapun dengan sejuta bintang yang menyinari kelembutannya. Seandainya diajengku pun bisa tahu tentang cerita malam kepada dunia, malam dengan rayuan pulau mimpiya, dan malam bersama berjuta harapan dan keluh kesah orang-orang kecil nan teraniaya. Malam tidak selamanya datang dengan membawa berita duka ataupun kuasa tangan-tangan perkasa yang semakin kokoh menempatkan dirinya disamping altar pemujaan.
Sungguh malam akan sering datang, mengiringi raungan rindu dari para gadis, juga tangisan merdu dari para wanita-wanita tua.
Malam akan selalu datang dengan membawa kabar bahagia dan dusta. Bahagiamu yang akan kau rasa setelah seharian menahan dahaga. Kesejukannya mengganti warna indah sang mentari yang mulai meradang oleh ulah manusia. Malam telah merubah semua kengerian awan dan mendung dengan kabut senjanya diatas menara-menara langit lazuardi. Malam telah mampu menyandingkan setiap insan dengan insan lainnya atau keluarganya. Dan yang pasti malam, menjadi sarana nan indah untuk mendatangi sang Kekasih Sejati (4JJI).
Diajeng,
Aku akan selalu ada dengan nyanyian rindu yang telah kugubah sendiri syairnya, yang kusadur dari kalimat-kalimat indah yang aku sendiri pun taidak pernah tahu dari mana asal muasal kalimat-kalimat yang kusadur itu. Mungkin pemiliknya sendiri telah mati. Atau mungkin penulisnya lupa mengasaih nama pada bagian akhir tulisannya, lalu Dia lupa menaruh tempatnya. Tapi yang pasti, nyanyian itu telah merubah jalanku. Syair gubahanku itu telah banyak menuai tentangan dari berbagai pihak. Yang akan mungkin pula dikatakan bahwa aku telah gial, edan dan tidak waras, karena aku telah kehilangan harta yang sangat berharga bagiku (Kamu). Karena itu akan sangatlah wajar jikalau manusia lain menyebutku seperti itu, karena memang mereka mulai rabun dengan pandangannya. Bahkan jika dia ditanya mengenai dirinya dan apa yang dia lakukan pun, pasti jawabannya akan semakin membuat para Malaikat menjadi bingung.
Diajeng,
Apalagi saat malam itu telah bergerak sendiri guna menunjuki kebatilan para pengguna sangka kedalam sangkanya sendiri. Sangka-sangka manusia, tak lain hanyalah sangka syetan terhadap kebenaran dan kebaikan. Tiada sangka baik pun dari manusia yang akan mampu membuat hidupnya lepas dari sangka buruk itu sendiri. Dan kau pun sendiri telah tahu, antara sangka baik dan sangka buruk itu, yang kau sendiri pun mungkin pernah menyangkakan sangka buruk itu kepada yang Maha Hak, atas semua keadilannya bagi manusia.
Diajeng,
Sungguh aku sangat rindu padamu. Sungguh aku merindukan saat-saat kebersamaan kita dulu. Sebab tiadalah sangka lagi yang bisa aku gunakan untuk mengungkapkan rasa rinduku ini. Aku hanya mampu mengirimkan salam rindu ini, melalui celah-celah mimpi yang sedianya mungkin kau telah membukakannya untukku.
Diajeng,
Hari telah berganti masa. Dari masa keindahan malam, menuju ke masa kecerahan siang tadi. Sementara mulut ini telah terasa kaku untuk kembali berucap, yang mungkin pula hanya sekedar mengungkapkan kata “Cinta” ini kepadamu. Aku semakin tenggelam dalam masaku sendiri sayang….
Telah kutatap malam dan kusambut pagi dengan sangka baikku. Telah kusingsingkan lengan untuk menujung pagi bersemi ini, dan kugunakan kekuatan ragaku ini untuk mengayunkan pedangku kala siang tadi. Telah kumantapkan semua sangka baikku pula saat siang ini mau beranjak pergi. Dan senja yang gemerlap dengan pesona malam yang menjelma pun telah dapat kusaksikan dari bilik diriku. Aku pun mulai tersipu malu terhadap para pengembara yang menatapku penuh curiga. Dan aku dengan segenap nafasku, kembali meneriaki pagi yang telah berlalu untuk menymabut pagi kemabali.
Diajeng,
Mungkin kau hanya menyaksikan kedrmawanan hujan yang terus membagikan curahan kasih sayangnya bagi semua makhluk didunia untuk beberapa hari ini. Dan aku pun telah menitipkan sedikit air mataku bersamanya, seperti yang sering kau katakan pun, kau ikut terlarut dalam pekat cairan pesoanaku itu dalam setiap pengapdianmu. Dan aku pun ikut menangis sayang…
Hingga akhirnya aku menjadi bimbang. Aku tidak tahu apakah air mata ini adalah sebuah ungkapan kebahagian, ataukah hanya titipan pesan perasaan hatiku yang telah tergores oleh badai tahun ini.
Aku hanya mampu menolehkan wajah indahku ini, kebagian raga yang sering terhantam kata. Dan aku sekarang teraniaya oleh perangkap dunia yang telah syetan ciptakan. Walau aku sangat tahu pun jalan keluarnya.
Aku menjadi manusia yang sering bersembunyi dibalik singgasana kebesaran_Nya, dan sering kali aku keluar dengan cermin yang telah Dia sisipkan untuk dunia.
Aku tidak berharap, meminta apalagi memohon. Dan aku malah sering menjauh pergi ketika datang masanya bagiku untuk mengucapkan satu permintaan. Aku sudah berbulan-bulan melewatkan kesempatan itu. Aku tidak memiliki apa-apa yang kudapati. Aku juga tidak berhak apa-apa dari semua yang kuperoleh dengan sekuat tenaga. Karena aku sadar akan diriku. Aku sadar tentang diriku dan penyesalanku dan kecuranganku. Aku sadar dengan apa yang seharusnya kuberbuat. Aku sadar kemana seharusnya aku menunjukkan kasih sayang ini. Aku sadar kepada siapa aku akan bertanggung jawab dan mengatakan semuanya nanti. Dan aku juga sadar bahwa hidupku memang sudah tidak lama lagi.
Diajeng,
Dan aku pun sadar bahwa kau memang wanita yang sangat aku cintai, dan bahkan aku pun telah menikahkan jiwaku denganmu yang tanpa terpaut jarak dan waktu. Dan ketika itu aku pun dengan sangat sadar telah melakukannya. Dan yang terakhir aku pun sadar dengan keberadaanku disini. (bersambung……………….).
1 Komentar
Komentar RSS Lacak Balik URI Pengenal
Tinggalkan komentar

banyak hal yang telah aku temui dan temukan, namun keindahan itu kini tlah kunyalakan bersama mekarnya kembang perawan yang kupunya