Surat Untuk Saang Kekasih 1

Surat Untuk Kekasih *__bag 1____…….

Salam,

Dear Khusnul,
Sayang, sekarang aku bisa melihat bahwa langit itu memang indah, meskipun tatkala mendung itu tiba, keindahan warnanya akan tampak suram. Namun dari sanalah aku bisa menemukan keindahannya. Karena akan datang pelangi harapan nan menawan, sesaat setelah mendung kelabu itu pamit.
Sayang, dari sana pula aku akan mampu menggapai makna ke_Agungan_Nya, nan mempesona jauh kelubuk hatiku. Jauh dari jangkauan maya seseorang, kegelapan itu akan datang dikala kita sudah pernah merasakan indahnya sinar kecerahan.
Sayang, aku akan selalu berteduh pada langit itu, meskipun langit mendung, berjuta gelombang badai dan angin topan yang menerjang seperti prahara, meski sampai langit runtuh sekalipun, aku tidak akan pernah enggan untuk melabuhkan harapanku kepersinggahan terakhirku itu. Tempat dimana aku akan menjalani kehidupan baru nantinya. Aku yakin kau akan selalu menjaga cinta kita ini. Hingga mungkin sampai ajal menjemputku nanti, dan meskipun mungkin saat itu kau tak pernah ada lagi disampingku, namun aku sangat yakin akan kuasa Rabb_ku. Aku mencintaimu kekasihku, begitu pula aku mencintai Allah dan Muhammadku. Begitu pula aku mencintai Orang Tuaku dan saudaraku dan sahabat-sahabatku. Aku sungguh sangat mencintai kalian, sama seperti Adam mencintai Hawa, dan Hawa memberikan kasih sayangnya yang tulus untuk anak-anak Adam, hingga sampailah pada kelahiran kita.
Sayang, aku sudah tahu untuk meyakinkanmu bahwa aku memang sudah jauh lebih tua darimu. Lihat saja dari tahun kelaiharan kita. Jika kamu memang dilahirkan dengan tahun Masehi, yang mana sudah mengalami penggubahan ketika memasuki abad ke-17/ke-18, maka aku dilahirkan pada masa kelender Hijriah. Maka sudah barang tentu aku akan mengalami flase penambahan sedikit waktu hidup.
Sayang, itu hanya sedikit saja mengenai beda kelahiran kita, yang kemudian malah membuatmu menjadi bimbang. Maka aku dalam kalimat ini menyatakan aku sedikit lebih tua darimu.
Sayang, dalam hidup ini bukannya faktor usia yang sudah tua, ataupun faktor definisi kaya atau miskin, dan juga bukan mengenai kebijaksanaan bentuk pemerintahan. Namun pada masa hidup_mu, dan hidup_ku, maka memang kita inilah yang akan mempertanggung jawabkan setiap bentuk perilaku kita ini kepada_Nya.
Sayang, jika nanti kamu telah berhasil menemukan kebahgiaan_mu, yang sudah dirancangkan oleh para orang_tua_mu, dan terutama orang yang merasa paling berjasa dalam hidup_mu, yang kau pun sendiri juga telah menyerahkan hidup_mu untuk mereka, maka kau boleh datang menjengukku, dengan kebahagiaan yang mungkin akan kalian pertunjukkan didepanku, dengan wajah yang sumpringah, dengan pakaian yang serba indah, kendaraan-kendaraan mewah, dan mungkin dengan para pengawal pribadimu, dan membawa beberapa buah peti emas, berisi emas, uang dan permata lainnya, yang akan kalian tinggalkan untukku, dengan maksud untuk menebus cinta yang pernah kau berikan untukku, dan akan kalian katakan bahwa “….inilah harta dan pangkat derajat dan jabatan serta nama besar, yang akan menjamin kebahagiaan….”, sehingga aku akan menambahkan “….terimakasih…”, dan kalian akan tertawa bangga melihat kehidupan_ku yang sendiri (menduda), yang hanya bertempat disebuah ruangan berukuran kecil, seluas meja makan_mu, seraya meninggalkan sebuah kalimat yang terdengar sangat keras, sekeras suara petir disaat musim mengalami peralihan dari musim penghujan ke musim kemarau, “…dengan harta itu kau akan dapat makan sekenyangmu, kau bisa membeli kebahagiaanmu, dan kau pun bisa mendapatkan cinta dari beribu wanita lain, hanya dengan seper seribu dari harta itu. Ingatlah wahai kisanak, dengan harta itu kau akan bisa mendapatkan semua yang kau ingini, termasuk cinta dan kebahagiaan, juga kehormatan, pangkat dan derajat, dan yang pasti kehormatan..”, sementara aku akan tersenyum kecil sembari menambahkan beberapa kalimat murni dari apa yang kudapatkan “…kebahagiaan itu hanyalah bagi siapa yang merasakannya, bagaimana dia menerima, dari caranya dia bersyukur, bagaimana dia merasa cukup, dan bagaimana ia mengatur waktu. Aku sudah pernah hidup, mengenal, mananam dan mengenal cinta. Dari sanalah aku merasakan kebahagiaan itu. Aku hidup dengan cinta. Dan aku memang dilahirkan untuk mencintai sesamaku dan terutama Pangeranku. Aku mencintai adalah dari hati dan merasakan cinta_Nya melalui rasa Syukurku atas segala pemberian_Nya. Aku tidak pernah merasakan kesendirianku, meskipun yang kau lihat, aku dalam keadaan Duda. Paling tidak aku pernah merasakan sebentuk cinta yang tulus dari seorang gadis yang suci. Aku pernah merasakan sentuhan kasih sayang yang menawan, dari seorang perawan yang sedang merasakan cinta dari_Nya sang pemilik cinta. Dan aku sampai sekaarang pun masih merasakan cinta kasih_Nya yang Agung. Aku bahagia dengan rsa syukurku. Aku bisa berbahagia dengan mencintai. Dan aku, berbahagia dari semua ke_ikhlasan_ku menerima semua dari_Nya. Aku tidak hanya ingin mendapatkan kebahagiaan didunia ini saja, yang notabene hanyalah sementara waktu saja. Begitu juga dengan sukses, pangkat, derajat dan nama besar. Apalah artinya pangkat, derajat dan nama besar didunia, jikalau dimata Allah sang Rahmaan, kita tidak punya apa-apa. Sedangkan kesuksesan, tidak lain hanyalah bentuk semu dari kesombongan, jikalau kita tidak mampu menggunakannya, dan tak lain hanyalah sebuah jalan menuju kelembah kelalaian, jikalau kita tidak mampu mempertanggung jawabkan penggunaanya. Sukses, adalah sukses dunia, dan sukses di akhirat. Sukses, adalah jika kita berhasil mengakhiri hidup ini dalam keadaan Khusnul Khotimah, yang mana kesuksesan itu paling tidak sudah tercermin dari nama istriku sendiri yakni Khusnul Khotimah. Allah ya Rahmaan, ya Rahiim, ya Malik, ya Qudduus, ya Salaam, ya Mu’min, ya Muhaimin, ya Aziiz, ya Jabbaar, ya Mutakabbir, ya Khaaliq, ya Baari, ya Mushawwir, ya Ghaffaar, ya Qahhaar, ya Wahhaab, ya Razzaaq, ya Fataah, ya ‘Aliim, ya Qaabidh, ya Baasith, ya Khaafidh, ya Raafi’, ya Mu’iz, ya Mudzil, ya Sami’, ya Bashiir, ya Hakam, ya ‘Adl, ya Lathiif, ya Khabiir, ya Haliim, ya ‘Azhiim, ya Ghafuur, ya Syakuur, ya ‘Aliy, ya Kabiir, ya Hafiizh, ya Muqiit, ya Hasiib, ya Jaliil, ya Kariim, ya Raqiib, ya Mujiib, ya Waasi’, ya Hakiim, ya Waduud, ya Majiid, ya Baa’its, yua Syahiid, ya Haqq, ya Wakiil, ya Qawiyy, ya Matiin, ya Waliyy, ya Hamiid, ya Muhshi, ya Mubdi, ya Mu’iid, ya Muhyi, ya Mumiit, ya Hayyu, ya Qayyuum, ya Waajid, ya Maajid, ya Waahid, ya Ahad, ya Shamad, ya Qadiir, ya Muqtadir, ya Muqaddim, ya Muakhkhir, ya Awwal, ya Aakhir, ya Zhaahir, ya Baathin, ya Waali, ya Muta’ali, ya Barr, ya Tawwaab, ya Muntaqim, ya ‘Afuw, ya Ra’uuf, ya Malikal Mulk, ya Dzaljalali Wal Ikraam, ya Muqsith, ya Jaami’, ya Ghaniy, ya Mughni, ya Maani’, ya Dhaar, ya Naafi’, ya Nuur, ya Haadii, ya Badii’, ya Baaqi, ya Waarits, ya Rasyiid, ya Shabuur.

**_____________bersambung______**

& Komentar

  1. alhamdulillah…….
    salam dari saya unutk anda.
    assalamualaikum wr. wb.

  2. bagus!!

  3. mas Nur apa kabar???
    Kabare mb Khusnul apek kan?
    Salam buat semuanya ya??

  4. good,gue salut ma loe,nyentuh banget,berperasaan banget,pokoke,,,,,siiip deh,,,,,,,,,

    gue…….suka gaya loe

  5. kumenatap langit awan bertebaran, mereka membubarkan khayalan anak perawan akan indahnya bintang kemintang yang dapat mereka saksikan dalam bayangan nyata dan khayalnya…


Komentar RSS Lacak Balik URI Pengenal

Tinggalkan komentar