Surat Untuk Sang Kekasih ….bag 4

Surat Untuk Sang Kekasih ….bag 4

Selamat malam wahai engkau duhai sayangku….

Demi langkah langkah indah kaki kaki para Malaikat yang senantiasa menghembuskan kesejukan pada pagi hari dan keteduhan manakala tengah hari dan penunjuk jalan terang kala senja hari dan menjadi pelita kala gulita telah datang membayangi.

Sayang…

Kutitipkan salam rinduku pada hembusan pagi. Disetiap langkah indahmu, do’a ku selalu menyertaimu, semoga kelak kau kan tetap menjaga cintaku yang senantiasa indah kujaga untukmu. Nafasmu bagai desah gaun malam berpesta menyambut datang pagi, saat dimana para perawan masih tertidur pulas dalam buaian kelembutan angin malam. Bertiup bagai angin surga, bagi perawan desa yang sedang dilanda asmara. Setiap kakimu yang melangkah indah mendekati tepi sungai yang dermawan, senyum indahmu bagi para musyafir yang berteduh menunggu waktu dzuhur, juga halus sapamu kepada para gembala yang sedang menggiring ternaknya menjauhi persawahan, tanda telah senja hari. Kutitipkan salam rinduku melalui onak batinku saat mencari pelepas dahaga kala rindu. Aku pun senantiasa ikut menikmati suasana dukanyana yang melingkupi warna kota mati. Disini aku sendiri meliput sepi, saat dimana para pelaut sedang berlabuh merayakan hajatnya bagai menyambut datangnya tamu agung ataupun pesta pernikahan bagi para bangsawan. Disini dikala senja hari, bagaikan malaikat maut datang dengan kegelapan yang merayap cepat, sunyi, senyap. Sekajap saja mampu melenyapkan semua denyut nadi nadi raga yang telah tergunakan selama hidup.

Sayang….

Kepada siang aku memohonkan keteduhan untukmu. Kepada_Nya aku selalu menanyakan tentang kabarmu, tentang berita kesetiaanmu, tentang kisah cintamu, tentang rantai-rantai belenggu yang mengiringimu, tentang rayuan para ulama Bestari tentang indahnya hari esok akan datang kebahagaiaan dalam hidup tanpa cinta yang tulus, tentang bagaimana kau kan kembali ke asalmu dengan senyum kesetiaan dan kecintaan yang selama ini kau janjikan, tentang bagaimana kan kau jelang hari bahagiamu diatas jerit dan tangis kekasihmu, tentang bagaimana perasaan rindumu yang telah lama kau simpan dan kau sembunyikan dariku, dan tentang tenaga dan kekuatan yang pernah kau pakai untuk menggempur tembok tembok penghalang rasa cintamu.

Sayang…

Kepada senja aku kan bercerita tentang sajak sajak indah yang pernah kutulis untukmu, tentang kemelut nadi dan jiwaku melawan penderitaan dan penganiayaan, tentang pengampunan dari maut kepada malaikat maut, tentang hari dimana semua sahabat-sahabatku kan pergi jauh, tentang kearifan dan kebijaksanaan seorang muslim dan oarang tua, tentang bagaimana Islam mengajarkanku untuk saling hidup berdampingan dan kerukunan, tentang bagaimana aku mengaji bagaimana para merpati memaafkan anak-anaknya yang lupa pulang, tentang kesalahanku mengucapkan lafaz kesetiaan, dan tentang bagaimana nadiku yang sering kali berjuang mendustai hati.

Sayang….

Lalu saat malam itu kembali hadir, maka aku akan bercerita kembali kepada_Nya, tentang bagaimana rasa cinta ini menahanku, tentang bagaimana kasih sayang ini menawanku, tentang bagaimana rasa rindu ini melemahkanku, tentang bagaimana keadaan seluruh isi bumi ini jikalau cinta tidak menyentuhnya, tentang bagaimana rasa panasnya api jikalau bara yang menjadi sumbernya tidak mau lagi mengakui api sebagai hasil perjuangannya, dan tentang bagaimana peradaban manusia hidup dudunia ini yang hanya mendustakan cinta dan menjualnya demi sebuah kekayaan dan nama terang.

Sayang….

Mungkin aku telah mulai menuliskan sajak-sajak rinduku ini, hanya lebih lambat satu menit saja dari sesaat kepergianmu, sehingga kau tidak pernah tahu lagi dari mana kau akan datang kembali setelah sekian lama berperang melawan harga diri dan nama baikmu, yang mungkin kau tak tahu bagaimana kau dilahirkan dan dari mana kamu datang. Aku sendiripun masih berharap malam kan meninggalkan sisa sisa kearifannya untuk pagi yang mulai menyengat, setelah embun telah meleleh oleh fajar yang telah diporak porandakan oleh kaki kaki mulia para petani yang bergerak sedikit lebih cepat dari waktunya orang orang kaya yang tidur laksana menerima wahyu, sehingga merelakan waktunya kepada para petani, yang untuk selanjutnya dari petani akan mengembalikan sisa waktu itu untuk para kaya setelah mereka terbangun dan tergerak akal dan fikirannya. Kala mereka berfikir, maka petani sedang beristirahat. Dan saat mereka bergerak, maka petani pun harus merelakan pengembalian hutangnya pada para kaya. Itulah hidup, dimana yang bergerak mendekati cahaya, malah akan mendapati sepertiga bagian dari yang tertidur laksana penerima wahyu. Apalah arti jerih payah petani, jika mereka menganggap, uang hanya untuk nilai pendidikan dan jabatan, dan bukan untuk tenaga yang dengan sungguh sungguh dikeluarkan untuk menanam benih benih kehidupan, yang mana dari sanalah kehidupan itu berlangsung. Tapi itulah Cinta, dimana kecintaan para petani menanam benih padi, lalu kemudian merawatnya dengan sungguh-sungguh, menjaganya dan melindunginya dari setiap musuh, demi hasil yang sangat baik untuk memberi nafas baru kehidupan bagi anak dan cucu mereka.

Sayang….

Begitulah cinta. Secara fisik kau tak akan mendapatinya jika hanya kepuasan dan kenikmatan yang kau cari. Namun kau akan dapat merasakan cinta itu, hanya dengan keutuhan hatimu menanam dan merawatnya, menjaganya dan melindunginya demi nafas kehidupan yang lebih indah, berkorban untuk cintamu demi anak dan cucumu dan generasi penerusmu.

…………………bersambung**

Pati, 16 Oct 2008

Belum Ada Tanggapan

Belum ada komentar.

Komentar RSS Lacak Balik URI Pengenal

Tinggalkan komentar